Bangun Kecerdasan Kolektif, BEM FISIP Unla Gelar Simposium Bersama ILMISPI Bandung Raya dan Jabar

Bangun Kecerdasan Kolektif, BEM FISIP Unla Gelar Simposium Bersama ILMISPI Bandung Raya dan Jabar

Bandung (FISIP-UNLA) – Dalam rangka memperkuat nilai-nilai dasar mahasiswa sebagai agen perubahan, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Langlangbuana (BEM FISIP Unla), melaksanakan simposium dan focus group discussion (FGD) bertemakan “Meningkatkan Daya Kritis dan Intelektual Mahasiswa”.

Kegiatan yang dilaksanakan di Wisma Buana Unla pada Sabtu (09/12/2023) ini dihadiri oleh perwakilan dari Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (ILMISPI) Jabar dan Bandung Raya, lembaga eksekutif dari berbagai perguruan tinggi yang berasal dari Dema FISIP UIN Gunung Djati, BEM FISIP Universitas Pasundan (Unpas), BEM KMF ISIP Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani),  Sema FISIP YPKP Universitas Sanggabuana, BEM FISIP Universitas Bale Bandung, BEM Universitas Al-Ghifari, serta KEMA FISIP Universitas Komputer Indonesia (Unikom).

Kepada fisip.unla.ac.id, Ketua BEM FISIP Unla Fajar Sulistyanto, mengatakan, bahwa kegiatan ini adalah bagian dari kolaborasi antar-lembaga eksekutif dari berbagai perguruan tinggi, terutama ILMISPI yang merupakan jaringan organisasi tingkat nasional, regional dan lokal. Ia berharap, kegiatan ini mampu menjadi bagian pemantik transformasi perubahan sosial melalui gerakan mahasiswa. Selain itu, ia juga mengatakan, bahwa kegiatan ini ingin membentuk kesadaran kepada semua pihak terkait pentingnya peran organisasi mahasiswa dalam pembentukan karakter calon lulusan  pada saatnya nanti.

Sementara Dedy Rahmat, S.IP., M.Si (Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FISIP Unla), yang bertindak sebagai salah satu pemateri, mengingatkan mahasiswa terkait tantangan yang harus dihadapi di era digital. “Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 2022-2023 pengguna internet Indonesia telah mencapai 215 juta. Tetapi data lainnya dari UNESCO menunjukkan bahwa orang Indonesia hanya satu banding seribu yang gemar membaca. Kita lebih cerewet di medsos, sementara internet jarang kita gunakan untuk mengakses ilmu dan pengetahuan,” cetusnya.

Padahal, lanjut Dedy, bahan dasar untuk membentuk karakter mahasiswa itu adalah membaca, baik secara manual maupun digital. Sementara komuputerisasi di segala bidang cenderung menghasilkan karakter individualistik dan pragmatis. Selain itu ia menekankan mengenai pentingnya berorganisasi bagi mahasiswa agar membentuk karakter kritis, intelektual, dan peka terhadap permasalahan sosial.

“Karena karakter itu dibentuk bukan sesuatu yang alamiah, dan tidak akan cukup hanya melalui bangku kuliah yang cenderung berisi pemahaman ‘teoritik’. Jika organisasi kemahasiswaan itu dapat berkinerja maksimal, maka akan melengkapi teori di bangku kuliah dengan praktek yang berisi penanaman nilai-nilai,” tutur Dedy.

Pemateri lainnya, Eggy Yusran (Koordinator ILMISPI Jabar) menekankan mengenai pentingnya peran mahasiswa dalam perubahan dan alat kontrol sosial. “Hadirnya gerakan sosial (mahasiswa) bertujuan menghilangkan dominasi sang penguasa yang terlalu superior. Diharapkan mahasiswa dapat menghilangkan dominasi sang penguasa yang menyengsarakannya,” tegasnya.

Tri Pamungkas (Wakil Koordinator ILMISPI Jabar), yang juga bertindak sebagai pemateri menegaskan bahwa gerakan mahasiswa sejatinya bukan gerakan emosional semata, tapi juga merupakan gerakan batiniah dan logika. Karena itu, perlu ditekankan analisis kristis dalam menghadapi persoalan dan menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Ia juga menekankan bahwa gerakan mahasiswa harus menjadi gerakan kekuatan moral sebagai penyeimbang proses pembangunan dan politik bangsa.

Bertindak sebagai moderator dalam kegiatan ini M. Nasrul Rajab (Penanggungjawab ILMISPI Bandung Raya). Sementara betindak sebagai pemantik diskusi, Aldi Gunawan (Menteri Koordinator Sospolhukam ILMISPI Jabar.

Seluruh perwakilan lembaga eksekutif dari berbagai perguruan tinggi juga menyampaikan poin-poin penting, diantaranya yang berkaitan dengan pengoptimalan organisasi-organisasi kemahasiswaan untuk ikut serta menyiapkan sumberdaya manusia melalui beragam kegiatan yang merupakan implementasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat).  

(Red-DR)